Minggu, 04 Desember 2011

Sad Ending (The Short Story)


####
Lihat dari jarak yang lebih dekat. Sedikit lebih dekat lagi. Cukup.

Di sana ada pria yang sedang melamun, di balkon. Sambil menyangga punggungnya di pintu balkon. Tangan kanannya memegang novel, tangan kirinya ia selipkan ke sakunya. Terlihat cool bukan ? Sangat. Tapi tahukah ? Kalau diperhatikan lebih dekat, mata pria itu agak basah dan merah. Tampangnya kucel. Benar, dia tetap terlihat tampan dan menawan. Namun siapa yang tahu, ternyata pria gagah ini adalah pria yang menghabiskan tiga tahun terakhir dengan menangis dan penyesalan yang teramat sangat. Ingin tahu ? Dia kehilangan sesuatu yang tak pernah ia miliki, dan dia mencoba mencari sesuatu yang tak pernah hilang, lalu pada akhirnya dia menemukan sesuatu yang tak pernah ada. Lagi-lagi, pria ini menangis. Sad ending.

“Lo tau kenapa penyesalan selalu datang belakangan ?” Cakka bertanya tepat saat Mario memasuki kamar. Entahlah, Cakka mempunyai insting yang hebat. Atau mungkin saja ini efek dari suasana hatinya yang mellow sehingga ia menjadi begitu sensitif

“Mama nyuruh kakak turun. Di bawah ada Tante Zahra.”

“Karena kalau penyesalan datang di awal, maka hidup gak akan pernah ada cerita.” Cakka berbalik, menatap Mario yang sudah memasang tampang malas. “Iya gak, sih ?”

“Ck.” Mario berdecak. “Kakak sampai kapan sih gini terus ?” Ia banting dirinya di kasur empuk Cakka. berguling-guling aneh sebentar, lalu kembali duduk. “Cepetan turun, entah Mama marahnya sama Mario.”

Cakka menyeberangi kamar, sebelum membuka pintu kamar, ia berbalik. Menatap Mario yang tengah menepuk-nepuk tempat tidur Cakka. “Novel yang lo minta ada di laci. Untung kemarin masih ada. Besok kalau lo mau novelnya bilang. Lagian tumben banget lo mau baca novel gue ? Aneh.”

“Huwaaa,,, beneran, Kak ? Mana, mana, mana ?”

“Di laci.”

+++

Lamunan Cakka pecah saat tiba-tiba Mario sudah membanting diri di sampingnya. Ia merengut menatap Mario, dibalas cengiran oleh Mario. Detik kemudian Mario malah larut dengan novel yang tiga hari lalu Cakka berikan.

Sedikit kisah. Mario adik satu-satunya Cakka. Mario tak setangguh Cakka. Mario beda lima tahun dengan Cakka. Mario tidak putih seperti Cakka. Mario yang ceria. Mario yang tergila-gila dengan novel. Mario menatap Cakka yang kembali asyik melamun. Mario sedikit mendesah. Kenapa sih dia tidak setangguh Cakka ? Kenapa dia bisa sangat manja ? Cakka sepertinya sangat larut dengan lamunan, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa Mario sudah mendesah berulang-ulang. Ingin tahu lebih banyak ? Mario ini sangat manja. Bila telah mengenal Mario dengan sangat dekat, maka akan tahu bahwa Mario selalu menyebut dirinya ‘Mario’ setiap kali ia berbicara dengan yang lebih tua. Padahal ia sudah hampir lulus SMA, tapi sifat manja Mario semakin menjadi-jadi. Bukan, bukan. Mario bukan pria gemulai. Mario tetap pria dengan badan tegap dan langkah tegas. Hanya saja Mario selalu bertutur kata lembut dan amat sangat sopan. Satu hal yang sangat kontras antara Cakka dan Mario. Mario selalu tersenyum. Ia sangat ceria.

“Oh iya, bukannya hari ini jadwal Kakak check up ya ?”

Cakka menoleh malas. Mario menutup buku yang ia baca dan beralih mengambil hp di saku Cakka. Ia buka folder yang berisi jadwal-jadwal penting Cakka. Raut wajah Mario langsung berubah manyun. “Tuh kan, Kakak bandel banget sih. Nanti Mama marah.”

“Gue udah pergi tadi pagi.”

“Sama siapa ?

“Ya sendiri lah. Lo kira gue anak kecil ?” Cakka berjalan ke balkon. Mario mengikutinya.

“Mama bilang kan gak boleh sendiri kalau ke rumah sakit.”

Cakka mendengus. “Itu kan kata Mama, kata gue mah beda.”

Mario mencibir. Memang susah bicara dengan kakaknya yang satu ini. Selalu ingin menang sendiri. Lagian yang membuat Mario bingung, kenapa sih kakakya ini selalu sok tangguh, sok kuat, sok tegar. Padahal kalau ditinjau lebih teliti, Cakka ini lebih anak mami ketimbang Mario. Tapi berhubung Cakka selalu bersikap sok cool dan sok kuat, jadinya hanya orang-orang yang sedikit memiliki kepekaan yang tinggi yang akan sadar bahwa Cakka sebenarnya tidak lebih dari seorang anak mami yang manjanya gak ketulungan.

Sayangnya, Mario tak pernah bisa sok tangguh seperti Cakka. Lagian, Mario fine-fine aja tuh mendapat julukan ‘anak mami’, itu artinya dia mendapat kasih sayang yang cukup. Yah, setidaknya Mario berpikir begitu.

“Yo, lo udah siap baca novelnya ?”

Mario mengangguk semangat. “Udah, udah.” Mario mengambil novel yang tergeletak di tempat tidur dan berlari –balik- menghampiri Cakka yang sudah duduk lesehan di balkon sambil memangku gitar. “Ada cerpen dalam bentuk surat cinta lho, Kak. Mario bacain ya ? Keren banget suratnya.”

Alis Cakka bertaut. “Surat cinta ?”

“Iya. Kakak gak tau ?”

Cakka menggeleng. Ia ambil novel yang Mario pegang. “Lho, ini kumpulan cerpen toh ?”

“Yaelah, masa’ buku sendiri lupa, Kak.” Sahut Mario malas setengah sebal. Yang benar saja, ini kan kumpulan cerpen pertama Cakka. Masa’ iya Cakka lupa pada bukunya sendiri ? “Ini buku pertama Kakak.”

“Hah ?” Cakka semakin bingung. “Bukannya itu cover-nya ungu ? Kok ini bisa salem ?”

Mario mencibir. “Udah ganti cover. Kan dulu Kakak yang nyuruh.”

Cakka membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk kecil. Mengerti sajalah, daripada Mario semakin memperpanjang narasi-narasi basinya.

“Yang mana suratnya ?”

“Oh iya.” Mario membuka cepat halaman novel. “Ini.” Mario berpikir sebentar sebelum berujar. “Kakak tau lagu tentang cinta gak ? Itu lho, yang di nyanyiin ama Ipang.” Mario menyebutkan nama penyanyinya saat melihat raut bingung Cakka jadi semakin bingung. “Tau gak, Kak ?” Mario jadi tak sabar.

Cakka mengangguk. “Tau.”

“Yaudah, Kakak mainin deh, tapi temponya jangan terlalu cepat.” Mario mengintruksi. “Sambil Mario baca suratnya.”

“Sip.”

Mario menarik nafas dan membuangnya dalam hentakan yang di buat sedramatis mungkin. Cakka agak terkekeh.

Mario mulai membaca,,,


Untuk yang aku cintai yang tak pernah tahu bahwa ia telah ku cintai dan semakin ku cintai ketika ternyata dia mencintai yang lain. Ia itu : KAMU

Aku mengenal kamu sejak lama, bahkan telah sangat amat lama. Dan mungkin aku ingin mengenalmu selamanya. Aku mengenalmu seperti ibu yang mengenal anaknya, yang akan tau bahwa anaknya itu adalah anaknya bahkan sebelum sang ibu mendapat buktinya. Karena rasa kenalku padamu sudah sangat membatu. Kalau ada karang yang pecah karena di terjang ombak, maka rasa kenalku padamu tak akan pernah pecah. Rasa kenalku malah semakin kokoh setiap harinya. Walau telur akan pecah saat jatuh, tapi saat aku jatuh aku malah semakin mengenalmu. Sangat mengenalmu. Walau takdir mengharuskan kamu tak perlu mengenalku.

Mengenalmu membuatku mengenal hal lain juga. Aku mengenal cinta, kasih sayang dan rasa rindu. Biar ku jelaskan persatu dari semua rasa itu.

Cinta. Sebagian orang mendeskripsikan itu sebagai sesuatu yang indah. Tapi saat aku mengenalmu, aku mendapat makna cinta yang lucu. Kita sering bercanda, kita saling menjelekkan, dan pada akhirnya kita tertawa bersama. Kalau orang-orang mengatakan cinta itu muncul karena seringnya bersama dan saling memberi perhatian, tapi aku mengatakan cinta itu muncul karena seringnya kamu meledekku, mengusiliku. Cinta ku tumbuh karena kita selalu tertawa. Tak pernah ada bentuk perhatian. Atau apa harus ku sebutkan bahwa saat kamu menyukuri aku terbentur tembok sebagai perhatian ? Ku rasa dapat ku artikan pula menertawakanmu saat kamu tertelan duri juga sebuah perhatian. Cinta yang tumbuh di hatiku bukan biasa. Walau takdir mengharuskan kamu tak perlu mencintaiku.

Kasih sayang. Apa yang harus ku jelaskan tentang ini padamu ? Sudahlah, lihat ke bawah. Akan ku jelaskan soal rindu.

Setiap hari aku tak pernah tak merindukanmu. Sungguh. Bukankah aku tak pernah berbohong ? Lalu kenapa kamu ragu ?

Tapi,,, ada satu rasa yang kemudian timbul. Sakit. Seorang teman mengatakan padaku bahwa semakin banyak yang kita tahu maka semakin banyak pula kita tak ingin kehilangan orang itu. Dan aku katakan bahwa aku tak ingin kehilangan kamu. Aku mencintamu, sangat mencintamu. Walau takdir mengharuskan kamu tak perlu membalasnya.

Cinta ku untukmu tumbuh begitu saja. Bukan tumbuh karena seringnya kita bersama atau seringnya kita memberi perhatian. Bukannya aku tak tahu semua deritamu, bukannya aku tak tau kamu sedang melawan maut, bukannya aku tak tahu bahwa kamu ingin diperhatikan, tapi aku hanya ingin mencintaimu dengan cara yang lain. Aku tak ingin memperhatikanmu, karena aku ingin kamu selalu tertawa dengan ledekanku, bukan merasa aku mengasihanimu dengan perhatianku. Sesungguhnya pula aku tak berbakat memberi perhatian. Aku hanya tak ingin membahas semua kesakitanmu, karena aku ingin kamu melupakan rasa sakit itu dengan cara aku tak perlu membicarakan hal itu. Kamu perlu tau satu hal, aku hanya ingin mencintaimu dengan cara yang lain. Walau takdir mengharuskan kamu ingin dicintai dengan cara yang kamu inginkan. Tapi, aku tetap ingin memakai caraku.

Pada akhirnya, yang sudah ku ketahui akhirnya, aku tak mendapat cintamu. Karena kamu tak mengerti caraku. Aku hanya sampai pada batas teman. Ya, teman. Teman saling meledek dan tertawa.

Maafkan aku, tapi aku tak bisa berhenti menumbuhkan cinta dengan caraku. Dan tanpa kamu sadari, kamu semakin mengikuti caraku. Setiap ledekanmu, setiap itu pula rasa cintaku tumbuh.

Aku mencintaimu dengan caraku, kuharap kamu akan mengerti cinta bukan karena seringnya kita mengerti kesakitan pasangan kita, tapi karena kita mengerti cara datangnya tawa pasangan kita. Dan itulah caraku. Walau takdir mengharuskan kamu tak ingin mengerti.

Dari seseorang dengan cara cinta yang berbeda
Your friend---


Cakka mematung. Diam. Beku. Petikan gitarnya sudah berhenti, tapi jari-jarinya masih terdiam di atas senar.

Itu kisah cinta gue. SHIT !!!

+++

Intinya bukanlah kisah Cakka ataupun Mario. Tapi makna dari surat cinta yang di temukan Mario. Yang membuat luka lama Cakka terkuak lagi. Cakka tahu itu surat dari siapa. Cakka mengenal bahasanya. Dan Cakka sedang mencoba melupakannya.

Perhatikan lagi dengan seksama.

Beberapa menit setelah Mario keluar dari kamar Cakka, Cakka –kembali- menangis. Terisak pelan. Ia senderkan gitar di pagar balkon, lalu ia benamkan mukanya di antara lutut. Terbukti, Cakka rapuh. Sangat rapuh. Kisah Cakka, sad ending.

Perhatikan lagi dengan seksama.

Di balik pintu kamar Cakka, ada Mario. Mario juga menangis. Menangisi kisah Cakka.

“Mario,,,”

“Mama.” Mario berbalik. “Andai dulu Kak Cakka mengerti bahwa cinta bukan hanya tumbuh karena perhatian, mungkin sekarang Kak Cakka udah happy ending dengan Kak Agni. Bukan sad end begini.” Mario beringsut terduduk. “Toh, Kak Agni sahabatnya Kak Cakka. Mario bingung, kenapa bisa Kak Cakka milih Kak Shilla.”

“Dan sekarang Kak Cakka menyesal.” Mama melanjutkan.

“Sad Ending.” Mario mendesah pelan. “Dan Kak Cakka punya cerita. Oh Lord,,,”

+++

Tidak mengerti ? Hey ayolah, bukankah cinta memang tak bisa dimengerti ? Lalu kenapa dipusingkan ? Pahami saja setiap kata.

Dan tolong perhatikan lagi, kali ini dengan lebih seksama.

Sampai detik ini Cakka tak pernah (lagi) tersenyum.

Itu intinya. Mulai mengerti ?

_FIN___

0 komentar:

Posting Komentar