Sabtu, 18 Agustus 2012

Orpheus Eurydice

Inilah salah satu kisah cinta paling terkenal dan berakhir tragis sepanjang sejarah Mitologi Yunani

Di masa lalu, saat dewa-dewi masih sering turun ke Bumi untuk berinteraksi dengan manusia, hiduplah seorang penyanyi dan pemusik berbakat bernama Orpheus. Konon bila penyanyi ini berdendang dengan lyranya, burung-burung akan hinggap sejenak, binatang buas akan berkumpul mengelilinginya, bahkan batu-batu serta pohon-pohon pun akan bergeser dari tempatnya semula untuk mendengarkan nyanyiannya.

Di kota Zoni, Thrakia, di Yunani utara, penduduk setempat bisa menunjukkan pohon-pohon oak Orpheus, nama yang diberikan untuk sekumpulan pohon yang tampak seperti sedang menari. Menurut cerita, pohon-pohon itu tetap dalam posisi semula sejak mereka mendengarkan Orpheus yang sedang bernyanyi dan memainkan lyranya.

Orpheus memiliki bakat menyanyi yang diturunkan dari ibunya, Mousai Kalliope yang menikah dengan Oiagros, raja Thrakia. Dewa Apollo sendiri yang mengajarkannya bermain musik dan menghadiahkan sebuah lyra kepada Orpheus.

Dengan lyra pemberian Apollo itulah, Orpheus mengembara dari satu kota ke kota lainnya untuk bernyanyi tentang kisah cinta dan tindakan terpuji para pahlawan. Ia menyanyikan lagu-lagu pujian bagi mereka yang telah mengorbankan hidupnya demi tujuan mulia. Saat sedang bermain lyra di depan orang banyak, Orpheus sangat menikmatinya dan bersungguh-sungguh mencapai kesempurnaan. Bila ia dapat menghibur orang banyak Orpheus akan merasa puas dan senang.

Tapi tak ada yang lebih membuatnya bahagia selain menikahi wanita pujaannya, Eurydike. Eros, putra Aphrodite yang bersayap, telah menyatukan pasangan muda itu dalam ikatan cinta yang agung dan suci. Mereka menjadi pasangan yang paling serasi dan saling mencinta yang pernah ada di dunia.

Setelah menikah, kemampuan bermusik Orpheus semakin meningkat. Berkat kelembutan Eurydike, melodi-melodi tentang cinta yang didendangkan melalui lyra Orpheus terdengar semakin indah. “Tidak ada yang lebih indah di dunia ini selain cinta yang sejati dan serasi,” demikian kata-kata Orpheus yang pernah diucapkan.

Mereka berdua sering duduk berdua di lereng bukit yang permai di Thrakia, memandang keindahan panorama alam yang terbentang di bawah lembah. Kemudian Orpheus mengambil lyranya sementara Eurydike bernyanyi lembut tentang cinta abadi yang telah memberi mereka kebahagiaan.

Suatu hari yang indah dan cerah, kedua sejoli ini berjalan-jalan di Lembah Tempe. Pemandangan di lembah itu sangat memanjakan mata, di satu sisi tampak puncak Olympos yang menjulang tinggi dan di sisi lain terlihat puncak gunung Ossa yang menakjubkan. Di tengah-tengah kedua gunung itu mengalir sungai Peneus yang bergemericik tenang, yang suasana tepiannya teduh karena dinaungi pohon-pohon sycamore tua.

Orpheus duduk bersandar di salah satu batang pohon memainkan lyranya sementara Eurydike bernyanyi dan menari tanpa mempedulikan dunia. Di atas mereka, burung-burung berkicau riang dan binatang-binatang kecil berlompatan di sekeliling kaki mereka seolah-olah turut merasakan kebahagiaan pasangan muda itu. Alam dan seisinya seperti anugrah yang diberikan khusus para dewa untuk Orpheus dan Eurydike.

Tetapi ketiga dewi Takdir yang kejam dan tegas telah memutuskan kebahagiaan itu harus berakhir saat itu juga. Saat Kloto, yang menenun benang kehidupan, telah memutus benang Eurydike, Lakesis kemudian memilih akhir hidup tragis Eurydike yang dipatuk ular berbisa sementara Atropos yang keras menuliskan akhir hidup wanita malang itu dengan tinta yang tidak akan pernah bisa dihapus.

Demikianlah, Eurydike yang sedang melompat-lompat dan menari dengan riang di sekeliling Orpheus tidak menyadari langkahnya mendekati sebuah sarang ular. Dan tiba-tiba seekor ular berbisa menjulur ke luar dari sarang dan menancapkan taringnya di kaki Eurydike…

Jeritan Eurydike sungguh menyayat hati. Kekasihnya segera bergegas berlari ke arahnya, tetapi Eurydike sudah tak tertolong lagi. Kematian dengan cepat menjemputnya, bahkan sebelum tangan Orpheus yang penuh cinta meraihnya. Racun ular itu membunuh Eurydike dalam hitungan sekian detik saja.

Roh Eurydike terbang ke Dunia Bawah Tanah dengan tangisan pilu meninggalkan kekasihnya, Orpheus, yang tidak sanggup menanggung derita akibat kematian istrinya itu. Sedemikian sedihnya Orpheus sehingga setiap ia menyentuh dawai lyranya, hanya menimbulkan suara lengkingan parau, curahan seluruh penderitaan dan kesedihan hatinya yang mendalam. Ia tidak bisa lagi memainkan nada-nada yang indah tentang cinta dan keindahan dunia.

Sembilan hari sembilan malam tidak ada yang sanggup menghentikan kesedihan Orpheus. Dan pada hari kesepuluh sebuah gagasan gila yang tidak pernah dipikirkan manusia sebelumnya muncul di benaknya: Ia akan turun ke kerajaan orang-orang mati untuk membawa kembali Eurydike ke dunia!

Dengan hanya bersenjatakan sebuah lyra ia memulai perjalanan yang tidak pernah dilakukan manusia biasa selain Herakles.

Orpheus yang ditinggal mati Eurydike merasa sangat kehilangan dan membuat keputusan yang tidak masuk akal: pergi ke Hades untuk membawa kembali istrinya yang telah meninggal ke dunia fana.

Orpheus bertanya jalan menuju Hades kepada orang-orang yang ditemuinya di perjalanan, tetapi tidak ada seorangpun yang masih hidup tahu bagaimana menuju kerajaan orang mati tersebut. Mereka justru menasihati Orpheus untuk tidak melanjutkan perjalanannnya karena hanya sia-sia belaka dengan satu alasan: orang yang sudah mati tidak akan bisa hidup kembali.

Tetapi Orpheus tetap bersikeras dan akhirnya mendapatkan titik terang. Konon, di lereng gunung Taigetos di Peloponessos, ada sebuah lorong menuju gua yang pernah dimasuki oleh Herakles untuk membawa Kerberos, anjing penjaga pintu gerbang Hades ke muka Bumi. Ke sanalah Orpheus melangkahkan kakinya pergi.

Saat ia berjalan menuruni lereng gunung menuju gua itu suasana sunyi dan mencekam begitu terasa. Tampaknya tak ada satupun manusia yang pernah melewati jalan itu, tetapi cintanya terhadap Eurydike membuatnya berani dan berketetapan hati untuk terus menyusuri jalan menurun tersebut.

Hingga akhirnya ia tiba di sebuah lubang hitam menganga yang sangat pekat tanpa ada cahaya sedikitpun di dalamnya. Orang lain pasti akan mundur dan lari begitu melihat pintu menuju Hades yang begitu menakutkan itu, tetapi Orpheus terus melangkahkan kakinya dengan mantap, menuju ke kegelapan yang paling dalam.

Baru beberapa langkah kakinya berjalan, tiba-tiba tangannya ada yang mencengkeram. Seketika seberkas cahaya kedewaan bersinar di sekelilingnya. Orpheus memalingkan kepalanya dan ia melihat seorang pria tampan dengan topi bersayap memegang tongkat pendek yang dilingkari dua ekor ular. Di kedua tumit kakinya tumbuh sepasang sayap kecil. Orpheus mengenalinya, dia adalah Hermes, putra Zeus perkasa, yang mengantar orang mati turun ke Hades.

Pada awalnya, Hermes mencegah Orpheus melangkah lebih jauh, tetapi setelah melihat kebulatan tekad pemuda itu, putra Zeus itu kagum dan bersedia mengantarkan Orpheus untuk menghadap Hades, raja dunia bawah tanah.

Mereka berdua kemudian berjalan berjam-jam dalam kegelapan hingga terdengar suara gemericik air di bebatuan. Orpheus menyadari mereka mendekati tebing dan suara gemericik itu datang dari Sungai Styx, sungai suci yang mengalir di bawah tanah.

Dari dalam kegelapan, sesosok bayangan dan perahu datang menghampiri Orpheus dan Hermes. Dialah Kharon, tukang perahu yang bertugas menyeberangkan roh-roh orang mati sampai ke Hades. Begitu melihat calon penumpangnya seorang manusia yang masih hidup, Kharon kaget bukan main dan tidak bersedia menyeberangkan Orpheus dan Hermes.

Dengan tenang Orpheus memetik lyranya dan melodi indah yang keluar dari jari-jarinya bergema di ruangan Hades yang gelap mencekam itu. Kharon sangat menikmati musik indah yang belum pernah didengarnya. Ia seolah-olah tersihir oleh lantunan dawai lyra Orpheus dan bersedia menyeberangkan Orpheus ke pintu gerbang Hades.

Pintu gerbang Hades adalah gerbang menuju istana kediaman Hades, yang dijaga oleh Kerberos anjing menyeramkan berkepala tiga. Saat melihat Orpheus dan Hermes tiga kepalanya menggeram-geram dan kepala naga di ekornya mendesis-desis. Pintu gerbang Hades selalu terbuka dan Kerberos akan membiarkan setiap orang masuk ke dalamnya. Tugas Kerberos hanyalah satu: memangsa siapapun yang keluar dari pintu gerbang Hades. Tanpa kesulitan Orpheus masuk ke dalam gerbang dengan diiringi oleh Hermes.

Tidak lama kemudian, Orpheus sampai di balairung istana Hades yang mencekam. Di singgasana duduk dewa yang menjadi raja orang-orang mati, Hades. Di sampingnya duduk istrinya, Persephone yang jelita, sementara di sebelah kirinya duduk tiga hakim Hades: Minos, Rhadamanthys dan Aiakos, yang bertugas menjatuhkan hukuman bagi orang-orang mati atas kejahatan yang dilakukan selama mereka hidup.

Semua yang ada di sana tampak terkejut mengetahui yang dibawa Hermes adalah orang yang masih hidup. Wajah Hades berubah gelap menahan amarah yang memuncak, namun sebelum ia melontarkan kemarahannya, irama lyra Orpheus memenuhi ruangan dan suara Orpheus memecah keheningan dalam rangkaian nada yang sangat indah.

Hati sang raja orang-orang mati pun tersentuh dan terpesona oleh nyanyian Orpheus. Sementara di sampingnya, mata Persephone mulai berkaca-kaca. Tiga hakim dunia bawah tanah pun mendengarkan dengan hening dan takzim. Minos, raja agung Kreta menahan air matanya agar tidak jatuh, Aiakos, raja Aigina, menangis tersedu-sedu, sedangkan Rhadamanthys, raja Beoetia mendengarkan dengan perasaan yang sulit diungkapkan.

Orpheus bernyanyi tentang kebahagiaan hidup di dunia fana, tentang keindahan dunia, tentang cinta… hadiah agung dari para dewa. Lalu ia berkisah tentang cintanya kepada Eurydike, kekasihnya, dan akhirnya ia mencurahkan seluruh dukacita dan rasa kehilangannya yang mendalam. Emosinya bagai riak-riak air yang menggetarkan dinding-dinding Hades yang suram.

Orang-orang mati yang mendengar nyanyian Orpheus berhenti merintih. Tantalos yang dihukum harus menderita lapar dan haus selamanya sejenak melupakan penderitaannya. Sisyphos yang dihukum selamanya mendorong batu besar ke atas gunung sejenak menghentikan tugasnya. Para Danaida yang dihukum menuang air tanpa henti ke tempayan besar yang tidak berdasar menunda kerja sia-sia mereka untuk mendengarkan Orpheus dengan sepenuh hati.

Tiba-tiba dari kerumunan orang mati, bayangan seorang wanita muda menghambur ke depan. Dialah Eurydike yang mendengar nyanyian Orpheus dan menyambut kekasihnya dengan suka cita. Roh Eurydike langsung menjatuhkan diri ke pelukan Orpheus yang masih hidup.

Semua yang hadir di ruangan dan melihat kejadian itu terkesiap. Hukum agung dan suci dimana yang hidup tidak bisa berhubungan dengan yang mati telah dilanggar. Hermes yang menyadarinya segera memisahkan kedua kekasih itu agar Hades tidak menjadi tambah murka.

Tetapi Hades hanya menunduk dan membisu. Hening. Semua orang menunggu apa keputusannya. Setelah beberapa saat ia mengangkat kepalanya dan menengok ke arah Persephone. Tetapi Persephone hanya terisak kecil dan mata indahnya merebak oleh air mata. Baru kali ini hati Hades yang keras itu bisa melunak.

Sang raja orang-orang mati berpaling ke arah Orpheus dan ia mengabulkan permintaan Orpheus untuk mengembalikan Eurydike ke dunia, tetapi dengan satu syarat:

“Berjalanlah lebih dulu di depan, Eurydike akan mengikutimu. Tetapi jangan pernah memalingkan muka ke belakang sebelum kau mencapai ujung gua yang diterangi sinar matahari siang. Kalau kau lakukan itu, Eurydike akan langsung kembali ke kerajaanku saat itu juga.”

Syarat yang sepertinya mudah dilakukan dan Orpheus menyanggupinya. Ia sangat senang mengetahui sebentar lagi Eurydike akan berkumpul lagi bersamanya, menikmati keindahan dunia. Lalu, tetap dipandu oleh Hermes merekapun menempuh perjalanan pulang.

Hermes berjalan di depan, diikuti oleh Orpheus dan Eurydike di belakang mereka berdua. Begitu keluar dari pintu gerbang Hades, Kerberos sudah menanti dengan menggeram-geram mengerikan, tetapi nyanyian Orpheus membuat monster penjaga gerbang Hades itu menundukkan ketiga kepalanya dan hanya diam terduduk membiarkan mereka bertiga lewat.

Setelah itu mereka menyeberangi sungai Styx sekali lagi dengan perahu Kharon dan memulai perjalanan mendaki lorong gua yang sangat melelahkan. Selama perjalanan mendaki yang sangat berat itu berbagai pertanyaan mulai mengusik pikiran Orpheus.

Apakah benar Eurydike mengikuti di belakangnya? Kenapa suara langkah-langkah kakinya tidak terdengar sama sekali? Ia hanya mendengar suara langkah kaki Hermes dan dirinya sendiri. Bagaimana kalau Kerberos tidak membiarkan Eurydike melewati gerbang Hades? Bagaimana kalau Kharon tidak mengizinkan Eurydike naik ke atas perahunya? Pikiran-pikiran itu terus menyiksanya dan kian menyelimuti hatinya dengan keragu-raguan dan rasa penasaran.

Mereka masih berada dalam kegelapan gua yang pekat, tetapi Orpheus bisa melihat bayangan Hermes yang berjalan di depannya. Ia tinggal menengok ke belakang untuk melihat Eurydike, cukup sedetik saja untuk menenangkan hatinya. Teringat pesan Hades, Orpheus masih bisa menahan diri walaupun hatinya hampir meledak oleh rasa khawatir yang menggila.

Setelah melangkah beberapa saat lamanya, akhirnya sebersit sinar matahari nampak di kejauhan. Tetapi semakin mereka melangkah menuju sinar yang semakin terang itu, kekhawatiran Orpheus semakin menjadi-jadi. Tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu gua, rasa khawatir itu sampai pada puncaknya. Tinggal beberapa detik lagi Eurydike akan hidup kembali bersamanya. Iya kalau benar Eurydike mengikuti di belakangnya, tapi bagaimana kalau tidak?

Hanya selangkah dari mulut gua, untuk meyakinkan dirinya, Orpheus memalingkan kepalanya ke belakang. Cukuplah sedetik untuk menoleh ke belakang, pikirnya. Dan ia melihat Eurydike memang mengikutinya…

Oh para dewa, mengapa kalian begitu kejam dan keras terhadap manusia?

Begitu Orpheus menoleh, saat itu pulalah sosok Eurydike terbang seperti daun kering yang rontok tertiup angin di musim gugur, melayang kembali ke kerajaan orang-orang mati. "Selamat tinggal....." bisik Eurydike lirih sebelum suaranya ditelan keheningan gua. Syarat Hades yang keras telah dilanggar.

Sia-sia Orpheus berlari mengejar kekasih tercintanya. Sia-sia ia berusaha merentangkan tangan untuk meraih tubuh istrinya. Bayangan Eurydike telah lenyap ditelan kegelapan. Ia berlari sampai ke tepian sungai Styx dan berlutut memohon kepada Kharon agar bersedia menyeberangkannya sekali lagi, tetapi Kharon menutup telinganya rapat-rapat.

Orpheus mondar-mandir di tepian sungai Styx selama tujuh hari tujuh malam, memohon, memohon dan meratap. Pada hari kedelapan, menyadari perbuatannya sia-sia belaka, ia berjalan kembali ke mulut gua dengan hati berat. Di mulut gua ia menemukan kembali lyranya yang terjatuh saat ia mencoba merangkul Eurydike. Lyra itu tergeletak hanya selangkah dari sinar terang matahari! Orpheus memungut alat musik kesayangannya itu dan kemudian kembali ke kampung halamannya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan bertahun-tahun setelah kejadian itu, tetapi bayangan Eurydike tidak mau pergi dari pikiran Orpheus. Ia sama sekali tidak ada keinginan untuk menikah lagi dengan wanita lain.

Suatu hari, festival untuk menghormati dewa anggur, Dionysos, akan diselenggarakan di Thrakia. Dalam festival yang dihadiri oleh banyak kaum wanita itu, mereka minum anggur sampai mabuk, menari dan bernyanyi menirukan para Mainada, peri-peri yang mengiringi Dionysos. Wanita-wanita Thrakia mengundang Orpheus untuk menghadiri festival tersebut, tetapi Orpheus terlalu sedih untuk bersenang-senang dalam jamuan pesta.

Para wanita itu merasa tersinggung oleh penolakan Orpheus dan pergi dengan marah. Setelah pesta usai, saat mereka pulang dalam keadaan mabuk, tanpa sengaja mereka bertemu kembali dengan Orpheus di jalan. Teringat oleh penolakan Orpheus sebelumnya, wanita-wanita ini menjadi menggila dan menyerang pemuda itu dengan liar. Mereka menyerang dengan batu, kayu, sabit dan di bawah pengaruh anggur yang sangat keras mereka terus menghajar penyanyi malang ini hingga tewas.

Orpheus menghembuskan nafas terakhirnya di tangan wanita-wanita mabuk ini, tetapi jiwanya meluncur dengan gembira menuju Hades, dimana ia bisa bertemu dan bersatu dengan Eurydike untuk selamanya. Tidak ada suara nyanyian dan musik yang terdengar di Hades, tidak ada kicauan burung yang bernyanyi riang di bawah sana, tetapi Orpheus dan Eurydike tetap berbahagia, karena cinta telah mempertemukan mereka kembali.

Di permukaan Bumi, dewi-dewi Muse (Mousai) yang menemukan jenazah Orpheus, menguburkannya di suatu tempat di lereng gunung Olympos. Konon di tempat itu hidup burung-burung yang bernyanyi lebih merdu daripada kicauan burung-burung manapun di dunia ini. Sedangkan lyra Orpheus yang hanyut terbawa ombak sampai pulau Lesbos ditemukan dan dipungut oleh Apollo. Untuk mengenang Orpheus, dewa musik ini menempatkannya tinggi-tinggi di langit dalam rangkaian bintang yang kemudian dikenal sebagai rasi bintang Lyra

1 komentar:

  1. Waaaa...mitologi yunani memang selalu menarik dan aku suka , tidak seperti mitologi lainnya yang di bumbui dengan perselingkuhan ...

    BalasHapus