Minggu, 29 April 2012

Investasi


PENDAHULUAN
Keputusan menunda konsumsi sumber daya atau bagian penghasilan demi meningkatkan kemampuan menambah/menciptakan nilai hidup (penghasilan dan atau kekayaan)di masa mendatang merupakan investasi.Dalam bahasa yang lebih filosofis, segala sesuatu yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan menciptakan/menambah nilai kegunaan hidup adalah investasi.Jadi investasi bukan hanya dalam bentuk fisik, melainkan juga nonfisik, terutama peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Dari pengalaman negara-negara maju terbukti bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi adalahbesarnya barang modal dan kualitas sumber dayamanusia.Karena itu jika sebuah perekonomian ingin maju, perekonomian tersebut harus melakukaninvestasi.

Teori Manajemen Investasi: Karakteristik dan Macam-macam Investasi

Secara umum investasi berarti penundaan konsumsi saat ini untuk konsumsi di masa yang akan datang. Dengan pengertian bahwa investasi adalah menempatkan modal atau dana pada suatu asset yang diharapkan akan memberikan hasil atau akan meningkatkan nilainya di masa yang akan datang. Dari sini, investasi berarti diawali dengan mengorbankan potensi konsumsi saat ini untuk mendapatkan peluang yang lebih baik atau besar di masa yang akan datang.

Berikut karakteistik investasi :
1. Modal sebagai penentu kekuasaan
2. Waktu yang tepat untuk menganbil keputusan
karena investasi adalah hubungan keputusan pada pilihan keuangan atas modal / dana dengan waktu

Macam-macamInvestasi antara lain
1. Real Investment
Real investment adalah investasi yang berhubungan dengan bisnis di sektor riil. Dimana aspek ini lebih didominasi oleh industryperbankan.
2. Financial Investment
Sementara Financial Investment adalah investasi yang dilakukan pada aspek keuangan. Seperti obligasi, saham, reksadana, dan pasar modal.

Bahan Kuliah Manajemen Investasi.

Menurut Sunariyah (2003:4): “Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang.” Dewasa ini banyak negara-negara yang melakukan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan investasi baik domestik ataupun modal asing. Hal ini dilakukan oleh pemerintah sebab kegiatan investasi akan mendorong pula kegiatan ekonomi suatu negara, penyerapan tenaga kerja, peningkatan output yang dihasilkan, penghematan devisa atau bahkan penambahan devisa.
Menurut Husnan (1996:5) menyatakan bahwa “proyek investasi merupakan suatu rencana untuk menginvestasikan sumber-sumber daya, baik proyek raksasa ataupun proyek kecil untuk memperoleh manfaat pada masa yang akan datang.” Pada umumnya manfaat ini dalam bentuk nilai uang.Sedang modal, bisa saja berbentuk bukan uang, misalnya tanah, mesin, bangunan dan lain-lain.
Namun baik sisi pengeluaran investasi ataupun manfaat yang diperoleh, semua harus dikonversikan dalam nilai uang.
Suatu rencana investasi perlu dianalisis secara seksama.Analisis rencana investasi pada dasarmya merupakan penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (baik besar atau kecil) dapat dilaksanakan dengan berhasil, atau suatu metode penjajakkan dari suatu gagasan usaha/bisnis tentang kemungkinan layak atau tidaknya gagasan usaha/bisnis tersebut dilaksanakan.
Suatu proyek investasi umumnya memerlukan dana yang besar dan akan mempengaruhi perusahaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu dilakukan perencanaan investasi yang lebih teliti agar tidak terlanjur menanamkan investasi pada proyek yang tidak menguntungkan.
Berdasarkan (www.sinarharapan.co.id/ekonomi/eureka/2003/021/eur1.html)menyatakan bahwa alasan melakukan investasi adalah sebagai berikut:
a. Produktivitas seseorang yang terus mengalami penurunan.
b. Tidak menentunya lingkungan perekonomian sehingga memungkinkan suatu saat penghasilan jauh lebih kecil dari pengeluaran.
c. Kebutuhan-kebutuhan yang cenderung mengalami peningkatan.

Tipe Investor Menurut profil Resiko

Tipe-tipe investor menurut profil resiko dalam berinvestasi dapat dideskripsikan berikut (www.danareksa.com/home/index_produk.cfm?act=investasiRepot)
1. Defensive
Investor dengan tipe defensive, investor ini berusaha untuk mendapatkan keuntungan dan menghindari resiko sekecil apapun dari investasi yang dilakukan.Investor tipe ini tidak mempunyai keyakinan yang cukup dalam hal spekulasi, dan lebih memilih untuk menunggu saat-saat yang tepat dalam berinvestasi agar investasi yang dilakukan terbebas dari resiko.
2. Conservative
Investor dengan tipe conservative, biasanya berinvestasi untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dan dengan rentang waktu investasi yang cukup panjang, misalnya, untuk pendidikan perguruan tinggi anak atau biaya hidup di hari tua. Investor tipe ini memiliki kecenderungan menanam investasi dengan keuntungan (yield) yang layak saja dan tidak memiliki resiko besar, karena filosofi investasi mereka untuk menghindari resiko.Walaupun investor conservative sering berinvestasi, investor ini umumnya mengalokasikan sedikit waktu untuk menganalisa dan mempelajari portofolio investasinya.
3. Balanced
Investor dengan tipe balanced, merupakan tipe investor yang menginginkan resiko menengah. Investor tipe ini selalu mencari proporsi yang seimbang antara resiko yang dimungkinkan terjadi dengan pendapatan yang dapat diraih. Tipikal investor ini bahwa mereka akan selalu berhati-hati dalam memilih jenis investasi, dan hanya investasi yang proporsional antara resiko dan penghasilan yang bisa diperoleh yang akan dipilih.
4. Moderately aggressive
Moderately aggressive, merupakan tipe investor yang tenang atau tidak ekstrim dalam menghadapi resiko. Investor ini cenderung memikirkan kemungkinan terjadinya resiko dan kemungkinan bisa mendapatkan keuntungan.Dalam hal ini, investor dengan tipe moderately aggressive selalu tenang dalam mengambil keputusan investasi karena keputusan yang ditetapkan sudah dipikirkan sebelumnya.
5. Aggressive
Investor aggressive, atau biasa disebut 'pemain', adalah kebalikan dari investor conservative. Mereka sangat teliti dalam menganalisa portofolio yang dimiliki.
Semakin banyak angka-angka dan fakta yang bisa dianalisa adalah semakin baik.Investor tipe ini umumnya berinvestasi dengan rentang waktu relatif pendek karena mengharapkan adanya keuntungan yang besar dalam waktu singkat.Walaupun tidak berharap untuk merugi, namun setiap investor aggressive menyadari bahwa kerugian adalah bagian dari permainan.

Jenis-Jenis Investasi

Menurut Senduk (2004:24) bahwa produk-produk investasi yang tersedia di pasaran antara lain:
a. Tabungan di bank
Dengan menyimpan uang di tabungan, maka akan mendapatkan suku bunga tertentu yang besarnya mengikuti kebijakan bank bersangkutan. Produk tabungan biasanya memperbolehkan kita mengambil uang kapanpun yang kita inginkan.
b. Deposito di bank
Produk deposito hampir sama dengan produk tabungan. Bedanya, dalam deposito tidak dapat mengambil uang kapanpun yang diinginkan, kecuali apabila uang tersebut sudah menginap di bank selama jangka waktu tertentu (tersedia pilihan antara satu, tiga, enam, dua belas, sampai dua puluh empat bulan, tetapi ada juga yang harian).Suku bunga deposito biasanya lebih tinggi daripada suku bunga tabungan. Selama deposito kita belum jatuh tempo, uang tersebut tidak akan terpengaruh pada naik turunnya suku bunga di bank.
c. Saham
Saham adalah kepemilikan atas sebuah perusahaan tersebut. Dengan membeli saham, berarti membeli sebagian perusahaan tersebut. Apabila perusahaan tersebut mengalami keuntungan, maka pemegang saham biasanya akan mendapatkan sebagian keuntungan yang disebut deviden. Saham juga bisa dijual kepada pihak lain, baik dengan harga yang lebih tinggi yang selisih harganya disebut capital gain maupun lebih rendah daripada kita membelinya yang selisih harganya disebut capital loss. Jadi, keuntungan yang bisa didapat dari saham ada dua yaitu deviden dan capital gain.
d. Properti
Investasi dalam properti berarti investasi dalam bentuk tanah atau rumah.
Keuntungan yang bisa didapat dari properti ada dua yaitu :
(a) Menyewakan properti tersebut ke pihak lain sehingga mendapatkan uang sewa.
(b) Menjual properti tersebut dengan harga yang lebih tinggi.
e. Barang-barang koleksi
Contoh barang-barang koleksi adalah perangko, lukisan, barang antik, dan lain-lain. Keuntungan yang didapat dari berinvestasi pada barang-barang koleksi adalah dengan menjual koleksi tersebut kepada pihak lain.
f. Emas
Emas adalah barang berharga yang paling diterima di seluruh dunia setelah mata uang asing dari negara-negara G-7 (sebutan bagi tujuh negara yang memiliki perekonomian yang kuat, yaitu Amerika, Jepang, Jerman, Inggris, Italia, Kanada, dan Perancis). Harga emas akan mengikuti kenaikan nilai mata uang dari negara-negara G-7. Semakin tinggi kenaikan nilai mata uang asing tersebut, semakin tinggi pula harga emas.Selain itu harga emas biasanya juga berbanding searah dengan inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya akan semakin tinggi pula kenaikan harga emas. Seringkali kenaikan harga emas melampaui kenaikan inflasi itu sendiri.
g. Mata uang asing
Segala macam mata uang asing biasanya dapat dijadikan alat investasi.
Investasi dalam mata uang asing lebih beresiko dibandingkan dengan investasi dalam saham, karena nilai mata uang asing di Indonesia menganut sistem mengambang bebas (free float) yaitu benar-benar tergantung pada permintaan dan penawaran di pasaran.Di Indonesia mengambang bebas membuat nilai mata uang rupiah sangat fluktuatif.
h. Obligasi
Obligasi atau sertifikat obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan, baik untuk menambah modal perusahaan atau membiayai suatu proyek pemerintah. Karena sifatnya yang hampir sama dengan deposito, maka agar lebih menarik investor suku bunga obligasi biasanya sedikit lebih tinggi dibanding suku bunga deposito. Selain itu seperti saham kepemilikan obligasi dapat juga dijual kepada pihak lain baik dengan harga yang lebih tinggi maupun lebih rendah daripada ketika membelinya.

Terdapat pengelompokkan jenis-jenis investasi (www.winterthur.co.id/id/winpens3.htm), yaitu:

1. Deposito berjangka
Simpanan dalam mata uang Rupiah, dengan tingkat suku bunga relatif lebih tinggi dibandingkan jenis simpanan lainnya. Tersedia dalam jangka waktu 1,3, 6, 12, dan 24 bulan.
2. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) merupakan bagian dari upaya BI untuk meredam dan menstabilkan likuiditas yang ada di pasar.
3. Saham
Surat bukti pemilikan bagian modal perseroan terbatas yang memberikan berbagai hak menurut ketentuan anggaran dasar (shares, stock ).
4. Obligasi
Surat utang yang berjangka waktu lebih dari satu tahun dan bersuku bunga tertentu, yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menarik dana dari masyarakat, guna pembiayaan perusahaan atau oleh pemerintah untuk keperluan anggaran belanjanya (debenture bond).
5. Sekuritas pasar uang
Sekuritas pasar uang merupakan surat-surat berharga jangka pendek yang diperjualbelikan di pasar uang.
6. Sertifikat hutang obligasi
Merupakan bukti kepemilikan piutang kepada pihak lain. Sertifikat ini dapat diperjualbelikan pada tingkat diskonto tertentu.Sertifikat hutang obligasi ini
merupakan bentuk investasi jangka panjang.
7. Tanah/bangunan
Investasi ini tergolong investasi dalam bentuk property, investasi ini biasanya untuk jangka waktu panjang karena mengharapkan adanya kenaikan dari nilai tanah/bangunan yang telah dibelinya.
8. Reksa dana.
Wadah investasi yang berisi dana dari sejumlah investor dimana uang didalamnya diinvestasikan ke dalam berbagai produk investasi oleh sebuah Perusahaan Manajemen Investasi (Mutual Fund).

Keunggulan dan Kekurangan Setiap Investasi
a. Produk perbankan
(1) Tabungan
Digunakan untuk menyimpan dana nasabah. Dapat memberikan banyak kemudahan, antara lain:
• Likuiditas yang tinggi, dapat diambil kapan saja: counter bank dan ATM
• Kemudahan bertransaksi: pengiriman uang, pembayaran (telepon, kartu kredit, dan lain-lain), penukaran uang, dan lain-lain.
• Dijamin pemerintah, sampai tahun 2006.
Kekurangan:
• Suku bunga yang diberikan sangat rendah, di bawah tingkat inflasi.
• Bunga kena pajak 20% untuk yang di atas Rp 7,5 juta.
(2) Rekening koran (cheque/giro)
Dipergunakan secara luas oleh perusahaan dan perorangan, untuk melakukan transaksi keuangan.
Kemudahan, antara lain:
• Likuiditas tinggi, dapat diambil kapan saja: counter bank pencairan cek.
• Kemudahan bertransaksi: pembayaran ke pihak lain tanpa menggunakan uang tunai dan tanpa harus datang ke bank.
• Dijamin oleh pemerintah.
Kekurangan:
• Tidak ada bunga, hanya terdapat jasa giro yang sangat rendah
• Bunga kena pajak 20%.
(3) Deposito berjangka
Dipergunakan untuk menabung/menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu.
Kemudahan, antara lain:
• Suku bunga yang lebih tinggi, sekitar 6%.
• Likuiditas tinggi, dapat diambil kapan saja, meskipun ada jangka waktu
tertentu.
• Dapat dijaminkan: untuk mendapatkan hutang dari bank yang sama.
• Dijamin oleh pemerintah, rate (%) x (# of Days/365) x Nominal x 0.80, 12% x (31/365) x IDR 1,000,000 x 0.80.
Kekurangan:
• Terkena penalti, bila diambil sebelum jatuh tempo
• Bunga kena pajak 20%, di atas Rp 7,5 juta.
Kesimpulan:
Dikarenakan sifatnya dan bunga yang diberikan dari suatu produk perbankan berada di bawah rate inflasi, maka produk perbankan tidak sesuai untuk dipakai sebagai alat investasi.
Kelebihan:
• Akses yang cepat/likuiditas yang tinggi
• Kemudahan bertransaksi
• Jaminan pemerintah
Secara umum, bank idealnya digunakan sebagai tempat melakukan transaksi.
Produk perbankan sangat ideal dipergunakan untuk penempatan dana darurat (emergency fund).

b. Produk investasi
Reksa Dana/Unit Trust
Keunggulan:
• Diversifikasi
• Pilihan investasi yang beragam
• Transparansi
• Peraturan yang ketat
• Biaya yang rendah (subs, redeem, management fee)
• Keuntungan pajak (untuk di Indonesia saat ini)
• Minimum investasi yang rendah.


INVESTASI  DALAM KONTEKS EKONOMI MAKRO
Untukmemudahkan dan memperdalam pemahaman, dalam teori ekonomi ma­kro yang dibahas adalah investasi fisik, misalnya dalam bentuk barang modal (pabrik dan peralatan), bangunan dan persediaan barang (inventory).Dengan pembatasan ter­sebut, maka definisi investasi dapat lebih dipertajam sebagai pengeluaran-pengeluaran yang meningkatkan stok barang modal (capital stock).Yang dimaksud dengan stok barang modal (barang modal tersedia) adalahjumlah barang modal dalam suatu per­ekonomian, pada satu saat tertentu.Untuk mempermudah penghitungan, umumnya stok barang modal dinilai dengan uang, yaitu jumlah barang modal dikalikan harga perolehan per unit barang modal.Dengan demikian barang modal merupakan konsep stok (stock concept), karena besarnya dihitung pada satu periode tertentu.
Agar tidak terjadi kerancuan dengan kenyataan sehari-hari, perhitungan investasi harus konsisten dengan perhitungan pendapatan nasional.Yang dimasukkan dalam perhitungan investasi adalah barang modal, bangunan/konstruksi, maupun per­sediaan barang jadi yang masih baru. Jika seorang pengusaha membeli pabrik dan bangunan yang pernah dipakaiorang lain, kegiatan tersebut tidak dapat dihitung sebagai investasi, sebab kegiatan tersebut tidak menambah stok barang modal yang baru

Investasi merupakan konsep aliran (flow concept), karena besarnya dihitung selama satu interval periode tertentu. Tetapi investasi akan mempengaruhi jumlah barang modal yang tersedia (capital stock) pada satu periode tertentu. Tambahan stok barang modal adalah sebesar pengeluaran investasi satu periode sebelumnya.

a. Investasi ,Dalam Bentuk Barang Modal dan Bangunan
Yang tercakup dalam investasi barang modal (capital goods) dan bangunan (con­struction) adalah pengeluaran-pengeluaran untuk pembelian pabrik-pabrik, mesin‑mesin, peralatan-peralatan produksi dan bangunan-bangunan atau gedung-gedunf yang baru.Karena daya tahan barang modal dan bangunan umumnya lebih dar setahun, seringkali investasi ini disebut sebagai investasi dalam bentuk harta tetap (fixed investment).
Di Indonesia, istilah yang setara dengan fixed investment adalah pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB). Besarnya angka PMTDB dapat dilihat path statistik PDB Indonesia berdasarkan pengeluaran.Data statistik selama sekitar 30 tahur terakhir ini menunjukkan pengeluaran investasi di Indonesia berkisar 30%-40% PDB yang berarti pengeluaran kedua terbesar setelah konsumsi rumah tangga.
Supaya lebih akurat, jumlah investasi yang perlu diperhatikan adalah investasi bersih, yaitu PMTDB dikurangi penyusutan (depresiasi).Penyusutan terhadap barang modal harus dilakukan agar efisiensi ekonomis dari kegiatan produksi tetap ter­pelihara, bahkan ditingkatkan. Sebab, semakin tua usia mesin, produktivitasnya makin rendah. Akibatnya, walaupun secara teknis masih dapat digunakan, tetapi tidak akan menambah bahkan mengurangi keuntungan ekonomis. Misalnya, pabrik gula yang mesinnya telah berusia lima puluh tahun, secara teknis dapat dipakai untuk memproduksi gula. Tetapi produktivitasnya yang rendah, sementara biaya pe­rawatannya sangat tinggi, menyebabkan secara ekonomis sudah tidak layak lagi. Lebih balk mesin itu diganti dengan mesin yang baru, yang menggunakan teknologi yang lebih baru pula.
b. Investasi Persediaan
Berdasarkan berbagai pertimbangan, perusahaan seringkali harus memproduksi lebih banyak daripada target penjualan.Misalnya, sebuah pabrik mobil menargetkan penjualan tahun 2000 adalah 50.000 unit.Tidaklah berarti produksinya harus 50.000 unit juga.Umumnya produksinya melebihi tingkat penjualan.Sebut saja 60.000 unit.Selisih 10.000 unit merupakan persediaan, untuk mengantisipasi berbagai kemung­kinan.Tentu saja investasi persediaan diharapkan meningkatkan penghasilan/ keuntungan. Persediaan sebesar 10.000 unit tersebut dikatakan sebagai investasi yang direncanakan (planned investment) atau investasi yang diinginkan (intended investment). Sebab, memang sudah direncanakan sejak awal.
Jika karena suatu hal (misalnya terjadi resesi ekonomi) jumlah mobil yang terjual hanya 40.000 unit, maka persediaan mobil menjadi 20.000 unit, lebih besar daripada yang direncanakan. Jumlah mobil yang tidak terjual sesuai rencana (10.000 unit) bukanlah investasi yang direncanakan (unintended investment).
Selain barang jadi, investasi dalam bentuk persediaan bisa juga dilakukan dalam bentuk persediaan bahan baku dan barang setengah jadi/sedang dalam proses penye­lesaian. Tujuan kebijaksanaan persediaan ini juga tetap dalam konteks meningkatkan pendapatan atau keuntungan di masa mendatang..

NILAI WAKTU DARI UANG

Investasi yang dilakukan saat ini tidak serta-merta menghasilkan peningkatan pendapatan hari ini juga.Dibutuhkan tenggang waktu.Makin tinggi jumlah dan kualitas investasi, biasanya tenggang waktunya makin panjang.Sebuah restoran yang ingin memperbesar usahanya dengan membeli gedung baru, meja makan dan per­alatan-peralatan yang baru, membutuhkan tempo kurang dari satu tahun untuk menghasilkan. Tetapi investasi dalam bentuk pendirian pabrik mobil, mungkin mem­butuhkan tenggang waktu sekitar lima tahun. Karena itu, pertimbangan pokok dari keputusan investasi adalah berapa nilai sekarang (present value) dari uang yang akan kita peroleh di masa mendatang, atau berapa nilai uang masa mendatang (future value) dari jumlah yang kita investasikan saat saat ini.

a.              Nilai Sekarang (Present Value).
Misalkan, Rudi ditawari sebuah rencana usaha dengan investasi awal sebesar Rp 100 juta. Berdasarkan proposal, lima tahun kemudian nilai nominal uang yang dia peroleh adalah Rp 161 juta, Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah nilai Rp 161 juta lima tahun mendatang itu lebih besar daripada Rp 100 juta saat ini? Jika ya, proposal usaha tersebut layak diterima.Sebaliknya, jika tidak.Bagaimana kita mengetahui nilai sekarang dari Rp 161 juta tersebut di atas?Hal ini sangat tergantung dari tingkat pengembalian investasi (investment return) yang Rudi harapkan.Seandainya, untuk menjalankan usahanya, Rudi harus meminjam dari bank dengan bunga pinjaman15% per tahun.Rudi berharap tingkat pengembalian investasi setidak-tidaknya lama dengan 15%.Karena itu nilai Rp 161 juta harus dideflasi sebesar 15% per tahun.Dalam perhitungan angka 15 % ini merupakan factor diskonto (discount factor).
Jika nilai sekarang dariRp 161 juta yang akan diterima lima tahun mendatang dinotasikan V, nilai Rp 161 juta adalah X, sedang waktu adalah t, dan faktor diskonto adalah r, maka berdasarkan manipulasi matematika sederhana, hubungan antara ele­men-elemen tersebut adalah:
X
V                    (1+r)t.................................................................................................................. (4.1)

Dengan menggunakan data diatas
            161
V =__________
          (1 +0.15)5

     =   80.1
Nilai sekarang dari Rp 161 juta yang akan diterima lima tahun mendatang adalah Rp 80,1 juta. Karena nilainya lebih kecil daripada investasi awal, yang sebesar Rp 100 juta, proposal usaha ditolak.Sebab usaha tersebut justru membuat nilai riil uang yang diinvestasikan makin kecil. Dapat juga dikatakan bahwa return dari investasi lebih kecil daripada tingkat bunga pinjaman. Ini bisa dibuktikan dengan menggunakan per­samaan eksponensial sederhana di bawah ini.
Jika nilai Rp 161 juta lima tahun mendatang dinotasikan sebagai Zt, sedangkan in­vestasi awal dinotasikan sebagai Z.t7, maka :
Zt= Zo (1+ r)t................................................................................................................................................................................................................................................ (4.2)
Karena nilai Zt, Zo, dan t sudah diketahui, maka r dapat diketahui. Dengan menggunakan data di atas,
161                    = 100 (1+ r)5
log 161              = log 100 + 5 log (1+r)
2,2068               = 2,000 + 5 log (1+r)
5 log (1+r)          = 0,2068
log (1+r)             = 0,0414

anti log (1+r) = 1,10; r = 0,1 atau 10%.

Tingkat pengembalian investasi ternyata hanya 10% per tahun, lebih kecil daripada biaya bunga pinjaman yang 15% per tahun.
b. Nilai Masa Mendatang (Future Value)
Menghitung nilai masa mendatang adalah kebalikan dari menghitung nilai sekarang dari output investasi yang direncanakan. Sekalipun melihat dari sudut pandang yang bertolak belakang, keputusan yang dihasilkan tetap sama. Dalam kasus di atas, dilihat dari nilai uang masa mendatang, dasar pengambilan keputusan ter­hadap proposal yang ditawarkan adalah berapa nilai lima tahun mendatang dari uang yang diinvestasikan scat ini. Jika nilai Rp 161 juta lima tahun mendatang adalah lebih besar daripada nilai masa mendatang yang diharapkan, proposal usaha diterima. Sebaliknya, jika tidak (nilainya lebih kecil).
Jika investasi awal dinotasikan sebagai A, nilai masa mendatang yang diharapkanadalah F,waktu adalah t, dan tingkat pengembalian investasi yang diharapkan adalah x 15%, maka :

F = A 91+ r)t …………………………………………………………   (4.3)

Persamaan (4.3) substansinya adalah sama dengan Persamaan (4.2). Dengan menggunakan data di atas, maka:
F = 100 (1+0,15)5
= 100 (2,01)
= 201 juta
Nilai mendatang (lima tahun mendatang) yang diharapkan Rudi dari investasi saat ini adalah minimal Rp 201 juta. Sedangkan yang ditawarkan proposal usaha hanya Rp 161 juta, karena tingkat pengembalian investasi yang dihasilkan hanyalah 10%.Pro­posal ditolak.

KRITERIA INVESTASI
Keputusan investasi merupakan keputusan rasional, karena keputusan berdasarkan pertimbangan rasional. Dalam praktik, digunakan beberapa alat bantu atau kriteria-kriteria tertentu untuk memutuskan diterima atau ditolaknya rencana investasi. Kriteria-kriteria tersebut dise­but kriteria investasi (investment criteria).Minimal ada empat kriteria investasi yang digunakan dalam praktik, yaitu:
a.       Payback Period
b.       Benefit/Cost Ratio
c.       Net Present Value
d.       Internal Rate of Return

a. Payback Period

Payback period (periode pulang pokok) adalah waktu yang dibutuhkan agar in­vestasi yang direncanakan dapat dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas.Jika waktu yang dibutuhkan makin pendek, proposal investasi dianggap makin baik.Kendatipun demikian, kita harus berhati-hati menafsirkan krite­ria payback period ini.Sebab ada investasi yang baru menguntungkan dalam jangka panjang (> 5 tahun).Misalnya, investasi perkebunan kelapa sawit baru mencapai titik impas sekitar 8-10 tahun.Dilihat dari sudut ini, investasi perkebunan kelapa sawit kurang balk dibanding investasi perkebunan singkong (ubi kayu), karenapayback period investasi kebun singkong mungkin hanya dua tahunan. Namun dilihat dari sisi yang lain, investasi perkebunan kelapa sawit jauh lebih menguntungkan dibanding singkong.

b. Benefit/Cost Ratio (B/C Ratio)
B/C ratio mengukur mans yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan dibanding basil (output) yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan sebagai C (cost). Output yang dihasilkan dinotasikan sebagai B (benefit).Jika nilai B/C sama dengan 1, maka B = C, output yang dihasilkan sama dengan biaya yang dikeluarkan. Bila nilai B/C > 1 maka B < C yang artinya output yang dihasilkan lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan. Begitu juga sebaliknya.Keputusan menerima atau menolak proposal in­vestasi dapat dilakukan dengan melihat nilai B/C. Umumnya, proposal investasi baru diterima jika B/C > 1, sebab berarti output yang dihasilkan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.



c. Net Present Value (NPV)
Dua kriteria pertama dapat dihitung berdasarkan nilai nominal (non discounted method).Sayangnya, perhitungan dengan menggunakan nilai nominal dapat menyesat­kan, sebab tidak memperhitungkan nilai waktu dari uang.Bisa saja sebuah proposal proyek, berdasarkan nilai nominal menghasilkan B/C > 1, padahal nilai sekarangnya sangat kecil.Jika memperhitungkan nilai waktu dari uang, barangkali B/C < 1.Untuk membuat hasil lebih akurat, maka nilai sekarang didiskontokan (discounted method) seperti contoh-contoh sebelumnya. Keuntungan lain dengan menggunakan metode dis­konto adalah kita dapat langsung menghitung selisih nilai sekarang dari biaya total dengan penerimaan total bersih. Selisih inilah yang disebut net present value.Suatu pro­posal investasi akan diterima jika NPV > 0, sebab nilai sekarang dari penerimaan total lebih besar daripada nilai sekarang dari biaya total.

d. Internal Rate of Return (IRR)
Internal rate of return (IRR) adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihitung pada saat NPV sama dengan nol. Jika pada saat NPV = 0, nilai IRR = 12%, maka tingkat pengembalian investasi adalah 12%. Keputusan menerima atau menolak rencana in­vestasi dilakukan berdasarkan basil pembandingan IRR dengan tingkat pengembalian investasi yang diinginkan (r).Jika r yang diinginkan adalah 15%, sementara IRR hanya 12%, proposal investasi ditolak.Begitu juga sebaliknya.

 

 

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INVESTASI


Sebagai sebuah keputusan yang rasional, investasi sangat ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu tingkat pengembalian yang diharapkan dan biaya investasi.

A. Tingkat Pengembalian yang Diharapkan (Expected Rate of Return)
Kemampuan perusahaan menentukan tingkat investasi yang diharapkan, sangat dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal perusahaan.

a. Kondisi Internal Perusahaan
Kondisi internal adalah faktor yang berada di bawah kontrol perusahaan, misalnya tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi yang digunakan.Ketiga aspek tersebut berhubungan positif dengan tingkat pengembalian yang diharapkan.Artinya, makin tinggi tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi, maka tingkat pengembalian yang diharapkan makin tinggi.Selain ketiga aspek teknis tersebut di atas, tingkat pengembalian yang diharapkan juga dipengaruhi oleh faktor non-teknis, terutama di negara sedang berkem­bang.Misalnya, apakah perusahaan memiliki hak dan atau kekuatan monopoli, kedekatandengan pusat kekuasaan, dan penguasaan jalur informasi.

b. Kondisi Eksternal Perusahaan
Kondisi eksternal yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan akan investasi terutama adalah perkiraan tentang tingkat produksi dan pertumbuhan ekonomi domestik maupun internasional. Jika perkiraan tentang masa depan ekonominasional maupun dunia bernada optimis, biasanya tingkat investasi meningkat, karena tingkat pengembalian investasi dapat dinaikkan.
Selain perkiraan kondisi ekonomi, kebijakan yang ditempuh pemerintah juga dapat menentukan tingkat investasi. Kebijakan menaikkan pajak, misalnya, diperkira­kan akan menurunkan tingkat permintaan akan agregat. Akibatnya tingkat investasi akan menurun. Faktor sosial politik juga menentukan gairah investasi.Jika sosial­politik makin stabil, investasi umumnya juga meningkat.Demikian pula faktor keamanan (kondisi keamanan negara).

B. Biaya Investasi
Yang paling menentukan tingkat biaya investasi adalah tingkat bunga pinjaman; Makin tinggi tingkat bunganya, maka biaya investasi makin mahal. Akibatnya minat akan investasi makin menurun.
Namun, tidak jarang, walaupun tingkat bunga pinjaman rendah, minat akan in­vestasi tetap rendah. Hal ini disebabkan biaya total investasi masih tinggi. Faktor yang mempengaruhi terutama adalah masalah kelembagaan.Misalnya, prosedur izin in­vestasi yang berbelit-belit dan lama (> 3 tahun), menyebabkan biaya ekonomi dengan memperhitungkan nilai waktu uang dari investasi makin mahal.Demikian halnya dengan keberadaan dan efisiensi lembaga keuangan, tingkat kepastian hokum, dan stabilitas politik.

C. Marginal Efficiency of Capital (MEC), Tingkat Bunga dan Marginal Efficiency of Investment (MEI)

1)  Marginal Efficiency of Capital (MEC), Investasi dan Tingkat Bunga
Yang dimaksud dengan Marginal Efficiency of Capital (MEC) atau Efisiensi Modal Marjinal (EMM) adalah tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return) dari setiap tambahan barang modal. Dalam kehidupan sehari-hari sebuah perusahaan, terutama perusahaan multinasional (MNC) atau konglomerat lokal, sering merencanakan banyak kegiatan akan investasi sekaligus.

2)   Marginal Efficiency of Capital (MEC) dan Marginal Efficiency of Investment (MEI)
Sama halnya dengan kurva permintaan akan investasi, kurva MEC secara nasional dapat diturunkan dengan menjumlahkan secara horizontal kurva MEC dari per­usahaan yang ada dalam perekonomian. Misalnya. MEC akan sama besar dengan MEI pada tingkat bunga tertentu, di mana pembeIian barang modal hanya untuk menggantikan barang modal yang sudah tidak dapat dipakai lagi. Di tingkat perusahaan, syarat untuk memelihara keuntungan adalah dengan menjaga agar tingkat produksi tidak berkurang.Untuk itu stok barang modal tidak boleh berkurang.Dilihat dari sisi ini, investasi merupakan upaya memelihara stok barang modal (capital stock adjustment process).Besarnya investasi yang harus dilakukan untuk memelihara barang stok adalah senilai persentase penyusutan dikalikan stok barang modal yang diharapkan. Misalnya, nilai barang modal yang ha­rus tersedia supaya perusahaan dapat mempertahankan tingkat produksi adalah Rp 10 miliar, sedangkan penyusutan adalah 10% per tahun, maka investasi per tahun adalah 10% x Rp 10 miliar = Rp I miliar. Jika perusahaan ingin meningkatkan keuntungan dengan cara meningkatkan kapasitas produksi, maka investasi yang dilakukan harus lebih besar daripada Rp 1 miliar, agar stok barang modal bisa menjadi lebih besar daripada Rp 10 miliar. Keputusan perusahaan untuk meningkatkan stok barang modal dapat memberikan dampak positif terhadap total perekonomian, sebab peningkatan stok barang modal secara nasional akan dapat meningkatkan kegiatan produksi dan juga dapat memperluas kesempatan kerja



0 komentar:

Posting Komentar